header websute lear4science (2)
Implementasi Model Project Based Integrative Learning Terintegrasi Upacara Labuhan Merapi untuk Meningkatkan TPACK dan Self-Efficacy Calon Guru IPA
Rizki Arumning Tyas, M.Pd. salah satu tim peneliti dari program studi Pendidikan IPA melaksanakan implementasi model Project Based Integrative Learning (PBIL) yang terintegrasi dengan kearifan lokal Upacara Labuhan Merapi. Kegiatan ini ditujukan untuk meningkatkan Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) dan self-efficacy calon guru IPA dalam merancang pembelajaran inovatif berbasis etnosains.

Rizki Arumning Tyas, M.Pd. salah satu tim peneliti dari program studi Pendidikan IPA melaksanakan implementasi model Project Based Integrative Learning (PBIL) yang terintegrasi dengan kearifan lokal Upacara Labuhan Merapi. Kegiatan ini ditujukan untuk meningkatkan Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) dan self-efficacy calon guru IPA dalam merancang pembelajaran inovatif berbasis etnosains.

Pelaksanaan penelitian dilakukan secara bertahap melalui tahapan perencanaan, pelatihan, hingga implementasi proyek pembelajaran. Pada tahap awal, mahasiswa calon guru IPA dikenalkan pada nilai-nilai budaya dan aspek sains yang terkandung dalam prosesi Upacara Labuhan Merapi, seperti konsep ekologi gunung berapi, konservasi lingkungan, serta interaksi antara manusia dan alam. Selanjutnya, mahasiswa dibimbing untuk merancang proyek pembelajaran integratif dengan memanfaatkan pendekatan project based learning yang menekankan kolaborasi, eksplorasi lapangan, dan pembuatan produk pembelajaran.
“Integrasi antara upacara tradisional Labuhan Merapi dengan pembelajaran IPA tidak hanya memperkuat pemahaman konsep ilmiah, tetapi juga memberikan pengalaman nyata bagi mahasiswa dalam mengembangkan kreativitas, berpikir kritis, serta kemampuan menggunakan teknologi dalam desain pembelajaran,” ungkap ketua peneliti.
Hasil sementara menunjukkan adanya peningkatan kemampuan mahasiswa dalam aspek TPACK, ditandai dengan meningkatnya kualitas rancangan perangkat ajar, penggunaan media digital, serta kemampuan mengaitkan konten sains dengan konteks budaya lokal. Selain itu, self-efficacy calon guru IPA juga meningkat, terlihat dari kepercayaan diri mereka dalam mengelola proses pembelajaran dan mengintegrasikan etnosains ke dalam proyek yang dirancang.
Kegiatan penelitian ini diharapkan dapat menjadi model inovatif dalam pendidikan calon guru IPA, sekaligus berkontribusi pada pelestarian budaya lokal melalui pendekatan ilmiah. Dengan demikian, calon guru tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga kepekaan budaya dan kecakapan abad 21 yang adaptif terhadap kebutuhan pendidikan di era global.

Scroll to Top