header websute lear4science (2)
Tim Peneliti Mengimplementasikan Model Project Creative Pedagogy Berbasis Etnosains Sekaten di UNTIDAR
Upaya pengembangan inovasi pembelajaran IPA terus dilakukan oleh para akademisi. Peneliti dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Desy Purwasih, M.Pd., dan Prof. Dr. Insih Wilujeng, M.Pd., tengah melaksanakan penelitian kolaboratif di Universitas Tidar (UNTIDAR) dan UNY. Penelitian ini berfokus pada implementasi model Project Creative Pedagogy yang terintegrasi dengan etnosains Sekaten, dengan tujuan meningkatkan kemampuan argumentasi ilmiah mahasiswa.

Upaya pengembangan inovasi pembelajaran IPA terus dilakukan oleh para akademisi. Peneliti dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Desy Purwasih, M.Pd., dan Prof. Dr. Insih Wilujeng, M.Pd., tengah melaksanakan penelitian kolaboratif di Universitas Tidar (UNTIDAR) dan UNY. Penelitian ini berfokus pada implementasi model Project Creative Pedagogy yang terintegrasi dengan etnosains Sekaten, dengan tujuan meningkatkan kemampuan argumentasi ilmiah mahasiswa.
Kegiatan penelitian ini dilaksanakan mulai Maret hingga Juni 2025 dengan melibatkan mahasiswa semester 5 yang menempuh mata kuliah IPA Terintegrasi atau IPA Terpadu di kedua perguruan tinggi. Melalui model pembelajaran berbasis proyek ini, mahasiswa diajak untuk mengeksplorasi kearifan lokal budaya Sekaten, mengaitkannya dengan konsep-konsep sains, dan merancang solusi kreatif berbasis masalah nyata.
Menurut Desy Purwasih, M.Pd., pendekatan ini diharapkan mampu menumbuhkan keterampilan berpikir kritis, kemampuan berargumentasi secara ilmiah, serta meningkatkan kreativitas mahasiswa. “Model Project Creative Pedagogy memberikan ruang bagi mahasiswa untuk berkolaborasi, bereksperimen, dan mengembangkan produk pembelajaran yang kontekstual. Integrasi etnosains Sekaten menjadi pintu masuk agar sains lebih dekat dengan kehidupan dan budaya mereka,” jelasnya.
Prof. Dr. Insih Wilujeng, M.Pd., menambahkan bahwa penelitian ini juga berkontribusi pada pengembangan pembelajaran IPA abad 21 yang menekankan literasi sains, keterampilan berpikir tingkat tinggi, dan pemahaman budaya. “Harapannya, hasil penelitian ini dapat menjadi rujukan dalam pengembangan kurikulum berbasis proyek di perguruan tinggi lain,” ujarnya.
Hasil penelitian ini mengharapkan hadirnya model pembelajaran inovatif yang tidak hanya meningkatkan argumentasi ilmiah, tetapi juga membangun identitas sains mahasiswa dengan memanfaatkan kearifan lokal sebagai sumber belajar.

Scroll to Top